PEKANBARU : Langit Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut tebal akibat sisa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru pada Senin (7/9/2026) pukul 09.00 WIB, indeks partikulat halus (PM2.5) melonjak hingga angka 119,3 µg/m³.
Tingginya angka tersebut menempatkan kualitas udara ibu kota Riau ini dalam status berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yasir Prayuna, mengonfirmasi bahwa kepungan polusi asap belum menunjukkan tanda-tanda mereda hingga menjelang siang.
Meskipun grafik titik panas (*hotspot*) di Riau menyusut dari 292 menjadi 176 titik, residu asap dari berbagai wilayah tetangga masih menumpuk di atas wilayah Pekanbaru.
Indragiri Hulu tercatat sebagai penyumbang *hotspot* terbesar di Riau dengan 69 titik, disusul Bengkalis (26 titik), Indragiri Hilir (21 titik), dan Dumai (20 titik).
Sementara di tingkat regional, Sumatra Selatan mendominasi sebaran api dengan 1.493 titik dari total 2.395 *hotspot* yang mengepung Pulau Sumatra.
Harapan sedikit berhembus seiring prediksi cuaca BMKG yang memperkirakan hujan berintensitas ringan bakal mengguyur beberapa area seperti Rokan Hulu, Rokan Hilir, Pelalawan, Siak, dan Kepulauan Meranti pada siang hingga sore hari. Meski begitu, suhu udara Riau diperkirakan tetap terik di kisaran 23–34°C dengan tingkat kelembapan 50–95 persen.
































































































































































































































